← Semua tulisan

Ketika Belajar Hanya Saat Taklim: Tentang Ikhwan yang Menunggu, Tapi Tidak Mencari

Ada fenomena yang mungkin sering kita lihat.

Semangat hadir ketika ada taklim.

Duduk rapi. Mencatat. Menyimak penjelasan asatidzah.

Namun setelah majelis selesai, aktivitas belajar seolah berhenti.

Tidak ada lanjutan.

Tidak ada bacaan tambahan.

Tidak ada usaha memperdalam.

Dan ketika ditanya kapan terakhir belajar, jawabannya sering sama:

“Menunggu kajian berikutnya.”

Padahal kajian itu hanya datang… sebulan sekali.

Ilmu yang Datang, Bukan Ilmu yang Dicari

Ada perbedaan besar antara:

menghadiri ilmu,

dan

mencari ilmu.

Sebagian orang terbiasa menerima ilmu hanya ketika ada majelis.

Jika tidak ada jadwal taklim, maka tidak ada proses belajar.

Seolah ilmu harus datang kepada mereka.

Bukan mereka yang mendatanginya.

Padahal para ulama dahulu dikenal dengan kesungguhan mencari ilmu:

  • membaca kitab,
  • mengulang pelajaran,
  • berdiskusi,
  • mencatat,
  • dan belajar secara mandiri.

Majelis hanyalah salah satu pintu.

Bukan satu-satunya.

Ketergantungan pada Jadwal

Ketika belajar hanya bergantung pada taklim, muncul beberapa masalah:

  • pemahaman berkembang sangat lambat,
  • banyak materi yang tidak tersambung,
  • ilmu terasa dangkal,
  • semangat naik turun sesuai jadwal kajian.

Apalagi jika taklim hanya satu bulan sekali.

Bayangkan seseorang yang ingin maju dalam bidang apa pun, tetapi hanya belajar satu kali dalam sebulan.

Tentu pertumbuhannya akan sangat lambat.

Namun tanpa sadar, pola ini terjadi dalam belajar agama.

Takut Salah atau Malas Memulai?

Ada beberapa alasan yang mungkin tersembunyi:

  • takut membaca sendiri karena khawatir salah memahami,
  • merasa cukup dengan apa yang disampaikan ustadz,
  • tidak tahu harus mulai dari mana,
  • atau sekadar malas yang dibungkus dengan alasan kehati-hatian.

Padahal belajar mandiri bukan berarti menggantikan peran ulama.

Justru untuk memperkuat apa yang telah diajarkan.

Membaca kitab yang direkomendasikan.

Mengulang materi.

Mendengarkan ulang rekaman.

Semua itu bagian dari thalabul ‘ilmi.

Ilmu Tidak Tumbuh dari Menunggu

Jika ilmu hanya datang ketika ada kajian, maka jeda antara kajian adalah jeda tanpa pertumbuhan.

Dan tanpa disadari, waktu berlalu.

Tahun berganti.

Namun pemahaman tidak banyak berubah.

Ini bukan karena kurangnya akses.

Tetapi karena kurangnya inisiatif.

Mungkin Kita Terlalu Bergantung pada Asatidzah

Asatidzah memiliki peran penting.

Namun mereka bukan satu-satunya sumber aktivitas belajar.

Jika semua pembelajaran menunggu jadwal mereka, maka perjalanan ilmu menjadi sangat terbatas.

Ulama terdahulu tidak hanya duduk mendengar.

Mereka juga membaca.

Mencari.

Mengulang.

Bertanya.

Belajar adalah perjalanan yang aktif.

Bukan pasif.

Sebuah Renungan

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.

Karena banyak dari kita mungkin pernah berada di fase ini.

Namun mungkin ada pertanyaan yang perlu kita renungkan:

Apakah kita benar-benar ingin berkembang dalam ilmu?

Atau kita hanya ingin hadir di majelis tanpa perubahan besar dalam diri?

Karena ilmu bukan hanya tentang hadir.

Tetapi tentang usaha.

Dan mungkin perjalanan belajar dimulai bukan ketika kajian berikutnya datang.

Tetapi ketika kita membuka buku… hari ini.