Ghibah Itu Dekat: Bahkan di Kalangan yang Katanya Sudah Ngaji
Ada anggapan yang sering muncul secara tidak sadar.
Bahwa ghibah itu milik orang awam.
Bahwa mereka yang sudah belajar agama, yang pernah mondok, yang sering hadir di majelis ilmu — seolah lebih aman dari dosa lisan.
Namun realita sering berkata lain.
Ghibah bisa terjadi di mana saja.
Dan oleh siapa saja.
Ketika Lisan Terasa Aman
Kadang ghibah tidak terasa seperti ghibah.
Ia hadir dalam bentuk obrolan santai.
Di pos ronda. Di forum bebas. Di grup nongkrong. Di kumpulan teman lama.
Awalnya ringan.
“Eh, si Fulan sekarang begini…”
“Katanya dia dulu begitu…”
“Memang dari dulu sifatnya seperti itu…”
Kalimat-kalimat ini terasa biasa.
Bahkan kadang dibungkus dengan tawa.
Namun tanpa sadar, nama seseorang menjadi bahan pembicaraan.
Dan ketika orang yang dibicarakan tidak ada di sana — di situlah batas tipis mulai dilewati.
Ilmu Tidak Otomatis Menghapus Kebiasaan
Ada realita yang mungkin perlu kita akui:
Belajar agama tidak otomatis membuat seseorang bebas dari dosa.
Ilmu adalah cahaya.
Tetapi nafsu tetap ada.
Lingkungan tetap mempengaruhi.
Kebiasaan lama tetap bisa muncul.
Dan justru di kalangan yang merasa “sudah tahu”, ada bahaya lain:
merasa aman.
Merasa bahwa pembicaraan yang dilakukan bukan ghibah, tetapi “nasihat”.
Padahal sering kali hanya sekadar membahas orang lain.
Ghibah yang Tidak Disengaja
Tidak semua ghibah dilakukan dengan niat buruk.
Banyak terjadi karena:
- ingin berbagi cerita,
- ingin melampiaskan emosi,
- merasa sedang diskusi biasa,
- atau sekadar mengikuti alur obrolan.
Lingkaran Sosial yang Tanpa Sadar Membiasakan
Ketika satu orang mulai menyebut nama, yang lain menambahkan.
Ketika satu cerita keluar, cerita lain mengikuti.
Obrolan berubah arah.
Dari hal umum menjadi personal.
Dari informasi menjadi penilaian.
Dan tanpa sadar, majelis yang awalnya netral berubah menjadi majelis ghibah.
Yang lebih menyedihkan:
ini bisa terjadi bahkan di kalangan yang rajin ngaji.
Kegelisahan yang Jarang Diakui
Sebagian orang sebenarnya sadar.
Pernah pulang dari kumpulan teman lalu merasa tidak nyaman.
Merasa ada yang salah.
Tapi sulit menghentikan kebiasaan itu.
Karena takut dianggap tidak asyik.
Takut merusak suasana.
Atau merasa semua orang juga melakukannya.
Mengingatkan Diri Sendiri
Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa pun.
Karena hampir semua orang pernah tergelincir dalam urusan lisan.
Termasuk mereka yang belajar agama.
Mungkin justru karena itu kita perlu lebih sering mengingatkan diri:
Bahwa ilmu bukan jaminan.
Bahwa lisan adalah amanah.
Dan bahwa ghibah tidak mengenal status.
Bisa terjadi di kalangan awam.
Bisa juga di kalangan yang disebut “ahli ilmu”.
Sebuah Renungan
Mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Siapa yang sering ghibah?”
Tetapi:
Apakah kita sudah cukup berhati-hati ketika menyebut nama orang lain?
Karena kadang dosa tidak datang dalam bentuk besar yang jelas.
Ia datang dalam obrolan kecil.
Yang terasa ringan.
Namun berat di sisi Allah.