← Semua tulisan

Ketika Kedekatan dengan Ustadz Disalahgunakan: Refleksi untuk Ikhwan Senior

Di dalam dunia dakwah, kedekatan dengan ustadz adalah nikmat besar. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan duduk dekat, belajar langsung, atau dipercaya dalam lingkaran yang lebih dekat dengan para asatidzah.

Namun sebagaimana setiap nikmat, ia juga membawa ujian.

Dan terkadang — tanpa disadari — kedekatan itu berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat.

Kedekatan yang Berubah Menjadi “Hak Istimewa”

Di beberapa lingkungan, muncul fenomena ikhwan senior yang dikenal dekat dengan ustadz. Awalnya ini adalah hal yang baik. Mereka menjadi perantara ilmu, membantu jalannya dakwah, dan menjaga komunikasi.

Namun masalah muncul ketika kedekatan itu berubah menjadi:

  • Merasa memiliki otoritas lebih dari yang lain.
  • Bersikap seolah keputusan dakwah harus melalui dirinya.
  • Mudah meremehkan pendapat ikhwan lain.
  • Menggunakan nama ustadz sebagai “tameng”.

Ucapan seperti:

“Ustadz biasanya begini.”

“Kalau antum dekat ustadz pasti tahu.”

Mulai terdengar bukan sebagai penyampaian ilmu, tetapi sebagai bentuk legitimasi pribadi.

Padahal kedekatan tidak otomatis berarti kebenaran.

Antara Wibawa dan Sikap Seenaknya

Ada perbedaan besar antara wibawa dan kesewenang-wenangan.

Wibawa lahir dari:

  • Akhlak yang baik.
  • Kerendahan hati.
  • Konsistensi dalam amal.

Sedangkan sikap seenaknya sering terlihat dari:

  • Cara bicara yang merendahkan.
  • Tidak mau dikritik.
  • Menganggap dirinya “lebih paham”.
  • Mematikan ruang diskusi.

Ironisnya, sikap seperti ini justru menjauhkan orang dari dakwah.

Bahaya Mengatasnamakan Ustadz

Salah satu fenomena yang paling berbahaya adalah ketika seseorang berbicara seolah mewakili ustadz tanpa kejelasan.

Mengatasnamakan ustadz bisa:

  • Menimbulkan fitnah.
  • Membuat keputusan personal terlihat sebagai fatwa.
  • Mengunci diskusi karena orang takut dianggap menyelisihi ustadz.

Padahal para ulama sendiri sering membuka ruang dialog, diskusi, bahkan perbedaan ijtihad dalam perkara yang luas.

Kedekatan Seharusnya Melahirkan Tawadhu’

Semakin dekat seseorang dengan ahli ilmu, seharusnya semakin terlihat:

  • Rendah hati.
  • Tenang dalam bersikap.
  • Tidak tergesa menghakimi.
  • Lebih menjaga lisan.

Karena mereka melihat langsung bagaimana para ulama bersikap — yang justru penuh kelembutan dan hikmah.

Jika kedekatan justru melahirkan kesombongan, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Dampak pada Generasi Baru

Ikhwan muda sering memperhatikan lebih banyak dari yang terlihat.

Ketika mereka melihat:

  • Senior yang keras.
  • Diskusi yang tertutup.
  • Ide baru langsung ditolak karena “bukan cara lama”.

Mereka bisa merasa:

  • Tidak dihargai.
  • Tidak punya ruang berkembang.
  • Akhirnya menjauh dari dakwah.

Padahal dakwah membutuhkan regenerasi.

Refleksi Bersama

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan individu tertentu.

Ini adalah pengingat bersama:

  • Kedekatan dengan ustadz adalah amanah, bukan status sosial.
  • Senioritas adalah tanggung jawab, bukan privilege.
  • Dakwah bukan tentang siapa paling dekat, tetapi siapa paling ikhlas.

Penutup

Yang membuat seseorang mulia bukan karena ia sering duduk dekat ustadz, tetapi karena akhlaknya mencerminkan ilmu yang ia pelajari.

Jika kedekatan melahirkan kelembutan, itu tanda keberkahan.

Namun jika kedekatan melahirkan sikap seenaknya, mungkin kita perlu kembali bertanya:

Apakah kita benar-benar mengambil ilmu — atau hanya mengambil posisi?