Ketika Asatidzah Kesulitan Mencari Ma’isyah: Antara Pengabdian dan Realita Kehidupan
Ada satu sisi dalam dunia dakwah yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Bukan karena tidak ada.
Tetapi karena terlalu sensitif untuk diangkat.
Tentang para asatidzah yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar, tetapi diam-diam berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup.
Pengabdian yang Tidak Selalu Sejalan dengan Kesejahteraan
Banyak asatidzah memilih jalan ini bukan karena mengejar materi.
Mereka mengajar karena cinta kepada ilmu.
Karena ingin menyebarkan sunnah.
Karena berharap amal jariyah.
Namun realita ekonomi tidak selalu mengikuti idealisme.
Di banyak pondok atau mahad:
- yang diterima bukan benar-benar gaji,
- lebih tepat disebut upah atau sekadar bantuan hidup.
Nominalnya sering jauh dari standar UMR.
Kadang cukup untuk bertahan.
Tapi sulit untuk berkembang.
Apalagi jika sudah berkeluarga.
Bekal ilmu dunia
Sebagian asatidzah tumbuh dalam lingkungan pendidikan agama yang intens.
Mereka menguasai ilmu syar’i.
Namun bekal dunia sering kali minim.
- Tidak terbiasa dengan dunia profesional modern
- Minim keterampilan digital atau teknis
- Tidak memiliki jaringan pekerjaan di luar pondok
- Mau bisnis tapi tidak tahu bagaimana
Akhirnya pilihan menjadi sangat terbatas.
Tetap mengajar.
Dan bergantung pada upah yang seadanya.
Bukan karena tidak ingin berkembang.
Tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.
Beban yang Tidak Terlihat
Ada sisi yang jarang terlihat oleh santri atau masyarakat.
Asatidzah juga memiliki kebutuhan:
- biaya keluarga,
- pendidikan anak,
- kesehatan,
- kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun ada tekanan moral yang tidak tertulis:
seolah membicarakan ekonomi terasa tidak pantas bagi seorang dai.
Seolah kesulitan finansial harus diterima sebagai konsekuensi keikhlasan.
Padahal keikhlasan tidak menghapus kebutuhan hidup.
Perbedaan Generasi yang Mulai Terlihat
Menariknya, generasi asatidzah yang lebih muda — terutama Gen Z atau milenial — menunjukkan pendekatan berbeda.
Sebagian dari mereka:
- lebih kreatif mencari tambahan ma’isyah,
- memanfaatkan teknologi,
- membuat konten dakwah digital,
- atau menggabungkan dakwah dengan skill profesional.
Namun di sisi lain, ada juga asatidzah yang sudah cukup berumur.
Mereka terbiasa dengan sistem lama.
Tidak semua mudah beradaptasi.
Bukan karena tidak ingin.
Tetapi karena:
- kebiasaan yang sudah mengakar,
- kurangnya exposure terhadap teknologi,
- atau rasa tidak nyaman keluar dari zona yang dikenal.
Akhirnya muncul kesenjangan.
Bukan hanya soal usia.
Tetapi cara menghadapi realita zaman.
Dilema yang Jarang Dibicarakan
Apakah salah jika seorang ustadz memikirkan penghasilan yang layak?
Apakah salah jika seorang ustadz memikirkan stabilitas finansial?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering dipendam.
Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa banyak ulama memiliki pekerjaan.
Berdagang. Bekerja. Memiliki profesi.
Ilmu tidak selalu berarti meninggalkan dunia sepenuhnya.
Sebuah Renungan
Tulisan ini bukan untuk mengkritik individu.
Ini hanya refleksi tentang sistem yang mungkin perlu dipikirkan bersama.
Bagaimana menjaga:
- kemuliaan dakwah,
- kesejahteraan pengajarnya,
- dan keberlanjutan generasi asatidzah.
Karena ketika seorang pengajar terus-menerus berada dalam tekanan ekonomi, bukan hanya dirinya yang terdampak.
Tetapi juga kualitas dakwah yang dibawanya.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya:
Bagaimana membantu asatidzah hidup layak?