Apakah Kita Se-Taklid Itu? Ketika Video Dulu Dianggap “Bukan Kita”
Ada masa di mana sebuah persepsi terasa begitu kuat.
Bahwa jika seseorang menggunakan video dalam dakwah, maka ia pasti dari “golongan itu”.
Bahwa jika memakai video, berarti bukan bagian dari kita.
Tanpa perlu banyak diskusi, label itu langsung melekat.
Video = bukan manhaj kita.
Dan persepsi ini bertahan cukup lama.
Ketika Alat Disamakan dengan Manhaj
Sebagian dari kita dulu mengira video itu haram mutlak. Karena video identik dengan gambar makhluk.
Jika ada video:
- berarti mengikuti kelompok tertentu,
- berarti manhaj mereka,
- berarti keluar dari jalur yang selama ini dijaga.
Padahal jika ditelusuri lebih dalam, yang sebenarnya dikecam bukanlah videonya.
Yang dikecam adalah:
- penyimpangan manhaj,
- cara penyampaian yang melampaui batas,
- konten yang dibuat seperti sinetron,
- skenario dramatis yang mengaburkan dakwah.
Namun dalam praktiknya, batas ini menjadi kabur.
Akhirnya untuk memudahkan, kita membedakan dengan mereka dengan alat.
Ketika Kita Baru Mengetahui Pendapat Lain
Seiring waktu, sebagian mulai menyadari bahwa tidak semua ulama memandang video sebagai sesuatu yang mutlak terlarang.
Ada khilaf.
Ada pendapat yang membolehkan dengan batasan tertentu.
Ada pertimbangan maslahat.
Dan di sinilah muncul pertanyaan yang tidak nyaman:
Apakah selama ini kita terlalu taklid?
Dilema Ketika Ingin Beradaptasi
Masalah baru muncul ketika sebagian mulai mempertimbangkan penggunaan video sebagai sarana dakwah.
Bukan untuk mengikuti kelompok lain.
Bukan untuk membuat konten dramatis.
Tetapi sekadar memanfaatkan teknologi agar dakwah lebih mudah diakses. Dakwah lebih menyebar.
Namun respon yang muncul seringkali bukan diskusi ilmiah.
Melainkan stigma.
“Lho, kok pakai video?”
“Bukannya dulu kita tidak seperti itu?”
“Nanti dikira ikut mereka.”
Kehati-hatian
Kehati-hatian dalam menjaga manhaj adalah sesuatu yang harus kita pertahankan.
Tapi ketika alat dakwah dianggap identitas kelompok, kita bisa kehilangan fleksibilitas.
Padahal sejarah dakwah selalu beradaptasi dengan media zaman:
- dari lisan,
- tulisan,
- radio,
- kaset,
- hingga internet.
Mungkin video hanyalah salah satu fase dari perkembangan itu.
Takut Dicap
Ada kegelisahan.
Takut dianggap berubah. Takut dianggap keluar dari jalur. Takut dikira mengikuti kelompok lain.
Karena sudah terlanjur melekat, bahwa video = bukan manhaj kita.